Laman

Kamis, 30 Juni 2011

Makam Wali Di Tuban

Jika menyebut makam Sunan Bonang, maka kebanyakan orang akan menuju kota Tuban. Meskipun ada makam lain selain di Tuban, namun kenyataannya makam Sunan Bonang di kota ini lebih banyak dikunjungi peziarah dari penjuru negeri.
Sunan Bonang yang bernama asli Syeh Mahdum Ibrahim ini merupakan putra dari Sunan Ampel (Surabaya). Di masa hidupnya, beliau dikenal cukup bijak dalam berdakwah. Seringkali beliau menggunakan kesenian rakyat untuk menarik simpati masyarakat. Salah satunya adalah dengan alat musik yang terbuat dari sejenis kuningan yang ditonjolkan bagian tengahnya. Bila tonjolan ini dipukul, maka akan timbul suara yang merdu di telinga penduduk. Alat inilah yang disebut Bonang.
Makam Sunan Bonang terletak di desa Kutorejo kecamatan kota Tuban. Hampir selama 24 jam, makam ini tidak pernah sepi dari peziarah. Di sebelah timur makam terdapat Masjid Agung kota yang kini sudah berubah bentuknya dari yang asli. Di sekitar area makam juga banyak terdapat makam para Ulama dan Habaib, salah satunya adalah Habib Alwy Baagil yang meninggal beberapa tahun yang lalu. Dan di sebelah selatan makam terdapat terdapat masjid astana, yang dulu juga menjadi tempat Sunan Bonang menghadapkan diri pada Alloh SWT.
Untuk sampai ke makam ini sangatlah mudah. Dari jurusan timur, turun sampai parkiran bus Sunan Bonang. Kemudian ratusan becak telah menunggu untuk mengantar anda sampai ke area makam. Apabila dari jurusan arah barat, maka turun di alon – alon kota Tuban. Hanya dengan berjalan kaki beberapa ratus meter saja, maka anda akan sampai ke area makam.
Semoga sedikit informasi ini dapat bermanfaat, khususnya bagi kaum muslimin di luar kota Tuban. Mengenai sejarah beliau, tentunya sudah sangat masyhur dan dicatat oleh berbagai sumber. Wallohu A’lam Bishowab. 
Beliau adalah seorang auliya’ yang insya Alloh menduduki maqom “quthub” di jamnnya. Makam al – Habib Abdul Qodir bin Alwy Assegaf berada di daerah Gedong Ombo Tuban. Masuk Gg Syeh Maulana, perempatan pabrik kapur sebelum pasar Tuban. Di area makam terdapat pula makam Syeh Maulana, dan al – Habib Idrus bin Salim. Nama besar beliau harum terdengar oleh kaum muslimin di seluruh dunia.
Sunan bejagung adalah seorang wali besar di kota Tuban. makamnya berada di Desa Bejagung Lor kabupaten Tuban, beliau adalah saudara Ibrahim Asmoroqondi. semasa berdakwah beliau bertugas mengkoordinir para dai untuk menyebarkan agama islam keseluruh pelosok Tuban.beliau adalah putra Sayid Djumadil Kubro (Sayid Husain Al Kubro)
BEBERAPA KAROMAH SUNAN BEJAGUNG
  1. Ikan Meladang.
Suatu sa’at Sunan Bejagung diajak pergi Hajji oleh Santrinya yang dari bangsa Jin. Santri tersebut sanggup menggendong Sunan Bejagung dari Tuban sampai ke Masjidil Haram Makkah. Tetapi setel.ah digendong dan terbang ke angkasa, tepat diatas samudra , Sunan Bejagung dilepas dan jatuh ke Laut. Tetapi Sunan Bejagung Selamat lantaran ditolong oleh ikan meladang dan dipinggirkan sampai  Jeddah suatu Pantai di Hadramaut (yang sekarang dikenal dengan Saudi Arabia). Setelah sampai di Arab Sunan Bejagung berpesan kepada semua anak cucunya jangan sampai makan ikan meladang. Dan ternyata sampai sekarang anak cucu keturunan Sunan Bejagung tidak diperkenankan makan ikan meladang; bila makan ikan meladang maka timbul penyakit gatal.
  1. 2. Pangeran Pengulu, Siti Garet dan Watu Gajah.
Konon salah seorang dari putera Mahkota Kerajaan Maja pahit putera Prabu Hayamwuruk (Brawijaya IV) bernama Pangeran Sudimoro (yang sekarang dikenal dengan Pangeran Pengulu/Syekh Hasyim Alamuddin/Sunan Bejagung Kidul) pergi dari Kerajaan karena ia tidak mau menjadi putera Mahkota. Ia senang menuntut Ilmu. Ia pergi ke Tuban mencari Guru Ilmu Syari’at , Thoriqot, Haqiqot, dan Ma’rifat. Setelah sampai di Tuban ia bertemu dengan Kanjeng Sunan Bejagung. Kemudian Pangeran Sudimoro mengaji kepada beliau. Sampai menjadi orang Alim’ yang pada akhirnya diambil menantu oleh Kanjeng Sunan dan ditetapkan menjadi Kiyai di Kasunanan Bejagung; semenatara Sunan Bejagung Uzlah di sebelah Utara Kasunanan , suatu Ladang yang penuh dengan tanaman petani.
Pada saat Pangeran Sudimoro masih mengaji di Kasunanan Bejagung Sang Pabu Hayamwuruk berusaha mencarinya Setelah mengetahui bahwa anaknya mengaji di Padepokan Sunan Bejagung Tuban, maka Sang Prabu memerintahkan Patihnya bernama Gajah Mada yang memiliki Ilmu Kadigjayan sangat tinggi dan terkenal dengan Ilmu Barat Ketigo , untuk mengajak Sang Putera Mahkota (Pangeran Sudimoro)  pulang ke Majapahit.
Berita tersebut didengar oleh Pangeran Sudimoro; ia menghadap kepada Sunan Bejagung . mohon agar Beliau membantunya untuk menolak kehendak Sang Pabu Hayamwuruk. Sebab Pangeran Sudimoro ingin tetap menekuni Ilmu Agama Islam saja, tidak ingin menjadi raja. Kehendak Pangeran Sudimoro tersebut dikabulkan oleh Sunan Bejagung, selanjutnya Sunan Bejagung menggaret tanah sekitar Padepokan Kasunanan Bejagung yang sampai sekarang dikenal dengan SITI GARET agar tentara Majapahit tidak bisa masuk Kasunanan. Ternyata setelah Tentara Mahapahit akan masuk Kasunanan tidak bisa akhirnya berhenti di arah selatan Kasunanan. Salah seorang santri melapor kepada Kanjeng Sunan bahwa de sebelah selatan Kasunanan  Banyak Pasukan Gajah dari Majapahit. Kanjeng Sunan mengatakan : “tidak gajah tetapi batu”. Seketika itu semua gajah menjadi batu. Yang sampai sekarang dikenal sdengan WATU GAJAH
Makam yang berada di kecamatan Palang Kabupaten Tuban ini, merupakan makam Maulana Ibrahim Asmoroqondi yang merupakan Ayahanda dari Sunan Ampel. Dakwah beliau cukup dikenal oleh para wali terdahulu khususnya di beberapa genearsi wali songo. Hingga saat ini makam beliau tidak pernah sepi dari peziarah. Arena parkir Bis juga di bangun cukup luas di daerah sekitar makam, para peziarah dari beberapa penjuru datang untuk mendapatkan berkah dari sang wali. Di area makam juga terdapat masjid yang dulu di gunakan beribadah dan berdakwah oleh beliau. Saat ini juga sering di gelar berbagai macam kegiatan keagamaan disana. Contohnya setiap Malam Jum’at tidak pernah sepi dari Jama’ah yang melaksanakan aktivitas dzikir bersama dan majelis ta’lim.
kutipan ini sekedar informasi tentang Maulana Ibrahim Asmoroqondi, mengenai sejarahmya Insya Allah akan kami bahas di lain kesempatan.
Wallahu a’lam bishowab

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar